Sabtu, 11 Agustus 2018

Kisah Sukses H. Endang, Seorang Pengusaha Kue Kering

Kisah Sukses H. Endang, Seorang Pengusaha Kue Kering - CAMILAN NUSANTARA


Sudah 18 tahun H. Endang menggeluti usaha kue kering dengan jatuh bangun. Dengan pengalamannya selama itu, dia tak gentar menghadapi persaingan yang terasa kian keras.

Awalnya, H. Endang termasuk pedagang serabutan. Dia jualan apa saja, yang dianggapnya menguntungkan. Sekali waktu jualan ikan, lain waktu ganti kerupuk, dan sebagainya. Cara berdagang seperti itu, boleh jadi menguntungkan. Tapi, sifatnya tidak pasti. Bahkan hampir mustahil dikembangkan.

Suatu ketika, sang isteri iseng membuat kue nastar dan membawanya ke pasar. "Sedikit, cuma menghabiskan setengah kilo tepung terigu," kenang Endang. Tapi, ternyata, nastar itu langsung habis terjual. Hari berikutnya, habis lagi, walaupun jumlahnya ditambah.

Lantas, otak bisnis Endang pun berputar, dan memutuskan untuk berkonsentrasi menggarap usaha kue kering, yang dimulai dengan nastar itu. "Saya begitu yakin, usaha ini menjanjikan," tandasnya, "Karena itu, kami bertekad menggarapnya dengan serius. Tidak akan ada lagi istilah gonta-ganti dagangan."

Menggunakan sepeda motor, Endang pun bergerak menawarkan kue yang dibuat bersama istrinya, ke toko-toko. Tidak seperti ketika menjual dalam jumlah sedikit yang selalu langsung habis, kali ini Endang harus bekerja keras agar kuenya diterima oleh toko dan agen.

Lima tahun lamanya, Endang berjibaku memasarkan kuenya, dengan hasil yang masih jauh dari harapan. Titik terang mulai terlihat, ketika dia menembus agen besar yang mempunyai jaringan pemasaran luas, hingga ke berbagai supermarket di Depok, Jawa barat, seperti Ramayana, Goro, Hero serta Gelael. Bahkan, juga melalui agen, kue kering Endang yang diberi merek "Selera" itu, sampai ke daerah Bekasi, Tangerang dan Bogor.

Dari hasil penjualan, H. Endang menyisihkan untuk menambah aset perusahaan. Rumah di Depok yang dulunya kontrak, kini milik sendiri dan cukup luas untuk produksi. Peralatan ditambah. Sebuah kendaraan roda empat, dibeli untuk memperlancar kegiatan operasional.

Dalam soal keuangan, Endang berpinsip, "Kalau semua bahan baku sudah terbeli, di tangan masih ada uang, barulah saya belanjakan untuk menambah aset. Dengan demikian saya selalu terbebas dari utang," papar lelaki asal Garut, Jawa Barat ini.

Sedangkan untuk menjaga mutu kuenya, dia sangat menghindari bahan pengawet. "Saya juga melakukan kontrol langsung ke toko dan supermarket tempat kue dijajakan," ujarnya. Meskipun kuenya kuat sampai dua bulan, jika seminggu ada yang belum laku, Endang langsung menariknya. Dengan kontrol ketat itu, Endang bisa memastikan bahwa produk yang dijual ke konsumen, masih dalam keadaan baik. Untunglah, jumlah produk yang ditarik, rata-rata hanya sekitar 10 persen.

Setiap menjelang lebaran, merupakan masa panen besar bagi Endang. Sehari, produksinya bisa menghabiskan 100 sak tepung terigu. Harga jual lima jenis kue keringnya Rp 3.750 per bungkus, atau Rp 11 ribu per stoples.

Ketika badai krismon datang, usaha Endang terguncang. Produksinya merosot tajam, hingga pernah hanya menghabiskan satu sak tepung terigu sehari. Terlebih, belakangan ini, muncul kecenderungan supermarket membuat kue sendiri, dan hanya sedikit saja menerima kue dari luar.

Sebagai langkah alternatif, sekarang ini H. Endang banyak mengarahkan pemasarannya ke daerah lain, terutama di pinggiran Jakarta. "Di sana, kue kami kembali menemukan pasar yang baik," ujar Endang, lega, "Sekarang, seluruh pemasaran, saya konsentrasikan ke daerah pinggiran itu."

Kalau dihitung-hitung, 18 tahun sudah Endang menggeluti usaha kue kering. Selama itu pula, dia bergulat dengan berbagai tantangan dan rintangan. Pantas saja, kalau kini dia menjadi tahan banting.


Baca Juga :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar